Dari kota Bayah, mari kita bergerak ke arah selatan. Yang kita tuju adalah Desa Sawarna. Kalau mengikuti petunjuk di depan terminal, arahnya menuju Pelabuhan Ratu.
Sepanjang jalan bisa kita saksikan deburan ombak yang menghantam karang. Kita juga melewati Pantai Taraje. Penduduk menyebut Taraje karena bentuk karang berundak, menyerupai tangga yang dalam bahasa Sunda sama dengan taraje.
Katanya pantai Taraje ini rame lho kalau malem…Itu katanya….hehehe…
Jaahh…lewat deh Pantai Taraje. Lewati saja agenda aneh-aneh itu. Dari pantai ini, perjalanan mulai menanjak. Kita musti lewat bukit. Beruntung sang Panther masih bisa mendaki. Banyak jalan belum diaspal. Gedebak-gedebuk. Untung gak ada yang mabok.
Waktu itu jalan sedang dalam perbaikan. Beberapa pekerja sedang membuka jalan dengan membelah bukit menuju Desa Sawarna. Konon katanya Ibu Gede (Gubernur Banten) mau jenguk wilayah itu.
Kebiasaan lama neh. Jalan atau fasilitas umum baru diperbaiki setelah pejabat lewat. Halah….kapan majunya!
Dari bukit itu, laut Banten Selatan memperlihatkan pesonanya tanpa cacat. Setelah itu tampaklah pohon kelapa berjejer rapi. Kebun yang menjadi gerbang desa Sawarna. Sa dalam bahasa Sunda mengacu pada satu. Sedangkan warna ya, warna. Jadi ini desa satu warna.
Setengah jam perjalanan dari “pusat kota” Bayah, sampai juga di Sawarna ini. Di sini, seorang lelaki tua bersarung menatap dengan mata temaram di pintu rumahnya yang sudah dimakan rayap..halah. Dialah Sardjo. Lelaki kelahiran Purworejo, 78 tahun lalu. Kami istrirahat sejenak dan berbicang dengan Mbah Sardjo ditemani istrinya.
Kami ngobrol sambil ditemani teh hangat plus keripik serta pisang. Istrinya Mbah Sardjo sampai harus dua balikan bawa keripik
. Tak ada raut penyesalan. Mereka sungguh ikhlas.
Cerita Mbah Sardjo “kesasar” ke Banten Selatan hampir sama dengan Mbah Parino. Ia ikut dalam rombongan Jawa Tengah pada usia 12 tahun. Ia menjadi penambang batu bara di bukit sekitar desa Sawarna. Sardjo juga menjadi saksi banyak rekannya yang meninggal karena kelaparan, penyakit hingga ditembak tentara Jepang.
Setelah Jepang menarik pasukannya, Belanda mencoba masuk kembali ke Sawarna pada 1948. Dari sini Sardjo mengenal Tuan Dado. Konon meneer inilah yang mebuat perkebunan kelapa yanga da di depan desa Sawarna. Sardjo kenal dekat dengan Tuan Dado. Sang Meneer memberi hadiah kepada Mbah Sardjo berupa kursi dan meja, yang menjadi tempat kami mengobrol.
Meneer sudah pergi. Tinggallah para Romusha di Sawarna. Sardjo sempat berpikir pulang ke kampung halamannya. Tapi uang darimana? Bahkan untuk makan sehari-hari saja sulit. Suatu masa –tentunya sudah Indonesia merdeka– Sardjo pernah menjadi pengemis di Bayah.
Sardjo dan rekan-rekan Romusha lainnya pernah mengajukan “bantuan” kepada pemerintah Jepang. Lebih pas ganti rugi. Jepang membalas : Kami mengerti kesulitan Anda. Tapi Kami sudah menyelesaikan permasalahan ini melalui pemerintah Indonesia.
Ternyata “perampok” Sardjo datang dari bermacam kelompok. Kala merdeka, Romusha menjadi “dagangan” bangsanya sendiri. Sekarang? Gak ada tuh perampok. Pssstttt..tapi ingat Mbah…jangan lupa coblos ini ya Mbah….:). “Ah, ternyata gak berubah juga”.

Pingback: Hidup Bersama Romusha Mati « Mereka layak………